Senin, 16 September 2024

The Fears

This little world of mine feel like a water pool that full of mud, and I'm drowning in it. How can I breath in a mud while in the water is also hard to breath even by the professional swimmer. And I am not a professional. That makes even harder. But that doesn't matter, several times I could be dead, but no. God hasn't let me die, He likes to see me suffer, ...and suffer. And suffer.

Eating was so much harder today. hours feels longer than usual but it kept chasing you. around the air, the time, the uncomfortable situation; I spend Sunday by seeing my phone through the whole day with heavy hearts, heavy breathing, anxious, frightened, feeling coldness the whole hands and toes. It is pathetic to know that a single phone notifications can trigger you, while usually you were the lion of your own story. I switch between deactive and activate the plane mode only to know if I have a new message that pop in my phone, then I would disappear, for a minute, for an hour, for a whole day. Though mostly no single text recheived, none and zero, I was still shaking. It costs me all day long to realize that all of them was only happened in my head; the fears.

Between those battles against me and my head, my chest and my bones seem following to feel hurt without any reason. I never really understand why does this matter becomes so physical. I keep picking my nails, my lip skin, my toe nails, until they're bleeding. If not, I don't feel better. I don't feel the satisfaction. Picking a dried wound again and again until it opened a new wound makes me calm. Now I don't have them; healthy nails, healthy lips, healthy hair, cause I barely love them, or touch them, I destroy them instead. Like a vampire who keeps sucking my bloods, my skin is colorless. Speaking about colors, artists mostly like beauty, pattern and structure, but I am not anymore. What kind of woman I am. Perhaps, a woman that never love and abandoned herself.

Sabtu, 07 Agustus 2021

Society and Critic

Aristoteles pernah berkata soal kritik, dia bilang, “Criticism is something we can avoid easily by saying nothing, doing nothing, and being nothing.”. Yang kesimpulannya adalah kalau bukan siapa-siapa kita tidak akan di kritik. Kritik adalah resiko yang diambil jika seseorang mengatakan sesuatu, melakukan sesuatu dan menjadi sesuatu. Namun saya jadi berpikiran terbalik dengan Aristoteles yang biasanya semua omongannya kelihatan benar, yang biasanya saya dewakan setelah Filsuf Yunani lain yaitu Plato dan Socrates. Menurut saya sendiri, tanpa melakukan apa-apa dan tanpa berkata apa-apa itu juga sebuah kritik. Kasarnya “peduli setan”nya lebih terasa. Halusnya, menjadi apatis. Tetapi untuk kalimat terakhir saya setuju dengan Aristoteles. Kalau bukan siapa-siapa untuk apa seseorang itu dikritik? Lalu saya berpikir lagi, seseorang bisa juga dikritik tentang apa yang tidak dilakukannya, tentang di manakah kontribusinya. Itulah kenapa kritik tidak ada habisnya, itulah mengapa tidak mendengar kritik artinya lebih baik dia tidak usah hidup. Selain itu Eleanor Roosevelt juga bilang, “Great minds discuss ideas, average minds discuss events, small minds discuss people.” Di masyarakat, kategori small minds sering terjadi dan tidak ada matinya, dengan dalih diskusi padahal argumen dan kritik sebelah mata, atau dengan dalih kritik membangun padahal pembunuhan karakter.

Lidah tidak bertulang. Kiasan itu sering dijadikan pemakluman. Society atau masyarakat saling menghancurkan dan dihancurkan akibat ujaran kebencian berdalih kritik yang disambut ketidakberterimaan kritik. Tetapi saat ini, apa yang menjadi tujuan kritik itu diutarakan. Kritik karena benar, atau semata kepentingan golongan, power dan kekuasaan?

Bicara soal society, sama seperti Einstein yang membuat rumus kehidupan yaitu Relativity of Ego vs. Knowledge yang kesimpulannya: The more the knowledge, lesser the ego. Lesser the knowledge, the more the ego.” Saya juga punya rumus pribadi sendiri tentang current society / masyarakat sekarang, bukan society secara ideal keseluruhan, ya.

The love of power > The power of love = current society.

Kesimpulannya, kecintaan terhadap kekuatan/power lebih besar daripada kekuatan terhadap cinta/love. Menurut saya itu bukan lagi hipotesis yang masih harus dibuktikan, tetapi sudah menjadi teori yang terbukti sekarang-sekarang. Kekuatan omongan yang menghasilkan doctrine, lewat hoaks, yang bertujuan untuk menjadikan seseorang menjadi enemy of the state atau musuh bersama, demi power dan kemenangan golongannya sendiri.

Kritik sosial dan protes masyarakat harus atas nama satu; suara kebenaran. Mengkritik karena benar. Bukan karena mewakili ormas-ormas.

Bully dengan dalih kritik sudah lumrah, apalagi kalau si sender dan si recheiver sama-sama tidak punya knowledge. Balik lagi ke rumus Relativitas Einstein tentang Ego vs Knowledge. Kalau sudah begini mau melawan pakai apa kalau bukan ego masing-masing? Kenapa knowledge bisa menjadi kontrol ego? Jelas karena orang yang pengetahuannya banyak, sudut pandangnya bercabang-cabang, berlapis-lapis, dan kemana mana. Pohonnya juga lebat. Buat apa egonya menang kalau dia dapat jawaban dari ilmu-ilmu pengetahuannya?

Sekarang kalau dilihat dari fakta—bukan dari pandangan atau pendekatan apapun, tidak ada individu dan tidak ada masyarakat yang sesungguhnya, selain tumpukkan orang-orang yang takut berdiri atas nama suara sendiri. Kalau tidak berteriak atas nama golongan, maka dia memilih abstain. Berserah pada nasib, atau memilih hidup aman.

Soe Hok Gie pada saat menjadi mahasiswa fakultas Sastra di Universitas Indonesia pada jaman Soekarno. Meski kampus dan universitas tidak boleh ditunggangi, Gie sudah lebih dulu menyaksikan itu.

Pada tahun 1960-an di akhir masa kepresidenannya, masyarakat Indonesia notabene Agamis dan Islamis mengkhawatirkan kedekatan Soekarno dengan partai komunis terlarang. Dalam soal ini saya paham posisi beliau sebagai presiden dengan negara ber-ideologi Pancasila dan persatuan segala umat, beliau harus memposisikan diri di tengah-tengah tanpa keberpihakan, maka Soekarno berada di pusaran Nasionalisme, Agama, dan Komunisme disingkat NASAKOM. Namun saya tidak sedang membahas itu.

Mari kita bahas contoh skala kecil dari permasalahan perpecahan di negara pada waktu itu, yaitu politik golongan yang masuk kampus, yang sudah ada sejak jaman Gie. Pada saat itu mahasiswa terpecah menjadi KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa) yang berperan menjatuhkan kediktatoran Soekarno sejak beliau menjabat sebagai presiden seumur hidup. KAMI melakukan protes dengan aksi demonstrasi. Gie meski tidak kontra dengan KAMI, pada akhirnya kembali mengkritik segelintir pimpinan mahasiswa itu karena lantang bersuara melengserkan Orde Lama tetapi terlena di kursi empuk Orde Baru. Istilahnya mereka aktivis yang berujung menjadi legislatif. Seperti mewakili NASAKOM, dalam perlawanan menggulingkan kediktatoran Soekarno, di lembaga pendidikan seperti Universutas muncul juga golongan-golongan mahasiswa seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang dekat dengan Partai Nasionalis Indonesia (PNI). Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) atau Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) yang condong atas nama agama. Juga Consentrasi Gerakan Mahasiswa (CGMI) yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sebagai mahasiswa, Gie enggan bergabung ke semuanya, kecuali dua; Himpunan Mahasiswa Sastra dan Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA UI). Seperti tulisannya di buku hariannya, “Saya bermimpi pada suatu ketika para ulama, pastor dan biksu, dan domine-domine di Indonesia akan bangkit berdiri menjadi saksi kebenaran. Stop semua kemunafikan, stop penindasan manusia atas nama apapun”. Ketidakberpihakan Gie kepada golongan, selain kepada atas nama bangsa yang merdeka, sepertinya membuktikan tulisannya itu.

Meski tidak berpihak pada golongan dan hanya berpihak pada kebenaran, Gie tetap mengkritik kebijakan yang menyimpang, tetapi dengan caranya sendiri; dengan orasi dan tulisan-tulisannya yang sering bikin geger dan menggertak. Bahkan setelah Soekarno berhasil jatuh, dia tidak serta merta berhenti mengkritik dan tunduk dengan Orde Baru. Tidak berhenti di Soekarno, Soeharto pun dia kritik. Rekan aktifis yang menjadi legislatif dan tergiur kursi di Orde Baru dia kritik. Bahkan dia mengkritik mahasiswa-mahasiswa dan dosen-dosen UI dengan judul yang pernah dimuat di Harian Indonesia pada 1969, yaitu ‘Wajah Mahasiswa UI Yang Bopeng Sebelah’.

Artinya Gie mengkrtitik karena karena adanya penyimpangan, bukan atas nama kemenangan ormas dan golongan. Dia mengkritisi kebijakan yang menyimpang. Oleh siapa pun itu. Gie begitu idealis, dia berdiri sendiri. Tan Malaka pernah bilang, ‘Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh para pemuda’. Ironinya di jaman sekarang ini, Idealisme tidak lebih dari sekedar perut yang lapar. Semua harus mengikuti sistem, atau mati kelaparan dan diasingkan. Tetapi Gie tidak takut itu, dia pernah menulis dalam buku hariannya, “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”

Saya mengakhiri tulisan ini dengan mengutip dari Henry David Thoreau dalam buku Walden and Civil Disobedience:

“Rather than love, than money, than fame; give me truth.”

Truth, bagi Thoreau, ada diatas cinta, uang dan ketenaran. Truth atau kebenaran, jika ditutupi, maka harus dibongkar. Jika ditanya lalu apa itu kritik yang baik? Kritik yang baik adalah kritik yang bertujuan untuk kemenangan bersama, bukan untuk kejatuhan lawan semata.

Benang Merah

 

Pada suatu masa di tempat dan waktu yang tidak terbatas, pada sebuah meja bundar, ada suatu perdebatan tentang existencial crisis, asal usul manusia dan keimanan. Diskusi dihadiri oleh perwakilan pemuka agama; perwakilan Filsuf oleh Charles Darwin dan Fredrich Nietzsche; Ilmuwan diwakili oleh Albert Einstein dan Stephen Hawking; Politisi oleh Presiden Abraham Lincoln.

“Urusan dia dan teka-tekiNya yang bernama takdir, lah! Semua sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa.” Teriak pemuka agama satu suara.

“Survival of the fittest, dong!” Sangkal Darwin. “Semua makhluk berevolusi seiring berjalannya waktu.. Kita hanyalah monyet-monyet yang berakal.”

“Aku sih percaya dunia ini awalnya hanyalah partikel atom yang kecil yang berkembang terus sejak triliun tahun yang lalu.” Stepen Hawking ikutan.

“Tapi perhitungan Sains sesuai lho dengan apa yang dikatakan kitab suci.” Sambung Einstein.

Abraham Lincoln dengan senyum wise-nya ikutan, “Aku sih; When I do good, I feel good. When I do bad, I feel bad. That’s my religion.”

Semua pernyataan ditertawakan Nietzsche, “Gimana sih. Namanya juga Faith. Percaya. Artinya tidak mau tahu lagi apa itu  kebenaran. Logikanya, benar atau tidak benar, dia yakin.”

Ironinya, perdebatan berakhir pada seorang Nietzsche yang Anti-God. Dia bilang ‘Faith is not wanting to know what is true’. Nietzsche mungkin saja mengatakan ini dengan sinis, tetapi dari pernyataan itu, benang merah ditemukan. Faith adalah iman, dan iman berarti meyakini. Saat kita percaya, benar atau tidak benar, sudah bukan soal lagi. Buat apa dipertanyakan kalau sudah yakin.

Sabtu, 17 Juli 2021

Harta, Tahta, Sastra.

Menulis lagi rasanya seperti tobat kepada Sastra. Seperti berdosa, berkata-kata rasanya malu sendiri. Kemana saja aku bertahun-tahun ini. 17 Juli 2021 aku mulai lagi. Sudah terlalu banyak orang bicara, dan kata-kata terlalu berseliweran bercampur di udara, dalam maya maupun nyata. Setelah bertahun-tahun dimanjakan mulutku, tubuhku, terkuncinya pikiranku oleh kenikmatan gratis institusi, aku kembali lagi. Bagai mahasiswa bangkotan yang terlambat mencari arti setelah bosan cari materi.

Mungkin harus gelisah dulu baru bisa berpikir. Jadi idealis tidak bisa bikin perut kenyang. Tapi buruknya aku, saat pundi-pundi ada dalam genggaman, otakku tidak fungsi lagi. Tulisan-tulisan, sajak-sajak, seringnya dibuat oleh orang-orang yang sedang kesasar dalam ramai. Saat tidak bisa lagi membedakan, kau ini sedang kosong atau penuh. Saat tidak lagi tahu, kau ini sedang berat ke tanah atau terapung di udara tidak bisa ke atas dan ke bawah. Menulis bukan untuk orang-orang yang gembira. Menulis dilakukan oleh orang-orang yang marah.

Yang sulit dalam masa ini adalah ketika udara terasa tidak gratis lagi. Kaki tidak bebas lagi. Pintu rumahmu bukan hak mu lagi untuk dibuka. Saat berjalan, berpikir, melamun di pinggir trotoar sudah bukan cara lagi bagi orang-orang yang selalu punya pertanyaan. Mereka dipaksa berpikir dalam ruangan, menatap triplek langit-langit kamar, menutup pintu rapat-rapat. Padahal jawaban-jawaban itu ada diluar, bukan dalam ruang petak yang lagi-lagi berisi isi kepalamu. Ditengok ke sudut mana pun isinya kemarahan. Banyak hal yang patah tetapi tidak bisa tumbuh lagi; harapan yang ditolak, mimpi yang terkurung, energi kesenangan yang habis, hasrat hidup yang alakadarnya, semangat yang redam, bahagia yang redup, imun yang menurun, iman yang sudah lama hilang.

Jika ditanya, "Ada apa dalam dua atau lima tahun ke depan?" Tidak ada cinta, tidak ada karya, maka tidak ada materi juga. Tidak juga mimpi. Hanya hidup untuk hari ini saja setiap harinya. Sampai usia--lima puluh?
"Hati-hati kalau bicara", kata setan yang takut.
"Sungguh percaya diri akan umur panjang", kata setan yang tadinya malaikat tapi berubah haluan.
"Dasar bocah kemarin sore, tahu apa kamu tentang hidup malang", kata setan yang ada dalam diriku sendiri.

Malaikat cuma diam saja, mungkin dia juga bingung. Siapa yang tahu kalau ternyata dia ingin sekali menempeleng dan mengutuk diriku, tetapi bukan tugasnya. Apa tidak marah dia dengan kebaikan yang selalu di cap sebagai kekalahan di dunia ini? Tetapi marah juga bukan tugasnya.

Hukum datang atas nama adil, tetapi kerdil. Institusi selalu berkata regulasi, tetapi basi. Penguasa datang atas nama pelindung, tapi hanya membuat langit makin mendung. Kekasih datang atas nama cinta, aku tidak pernah minta, tapi Tuhan selalu kasih yang mentah. Tidak apa-apa, tapi kalau hanya bikin air mata, maka buat apa. Sudah terlalu banyak pelajaran di dunia ini, dalam sekali lirik, dalam sekali hela napas, dalam sekali pikir, dalam sekali bicara, jadi jangan lagi dalam sekali pengalaman yang belum tentu hanya dua puluh empat jam saja. Jangka waktu tahunan dalam hidup yang sudah lama terhimpit oleh stigma usia muda dan tua, rasanya hanya buang waktu saja. Tetapi apa artinya hidup kalau semua sudah pasti, kalau semua tidak harus dicari sendiri.

Minggu, 30 Juni 2019

Ngobrol dengan Whitman

Akhir Juni tanggal tigapuluh,
Waktu Indonesia bagian utuh,
Walt Whitman asik gitaran,
pakai jubah di pinggir jalan,
senyum2 seperti Tuhan
Lampu-lampu sudah padam
Supermarket  sudah sepi,
Jalan raya sudah ngantuk,
Warung kopi butuh tidur.
“Kau punya hasrat kebendaan,
dia punya hasrat seninya.”
tanggapannya atas ceritaku
 “O’ captain, my captain...
...kalo hasrat spiritualitas?”
Abah Whitman senyum lagi,
dia senyum terus malam ini
“Mau diisi, mau kosong,
mau setengah; bebas.
Aku suka semua.”
Kebanyakan cinta
dalam dirinya
Tidak lama pergi,
besoknya jadi legenda.
Semudah itu,
menjadi Whitman.

Minggu, 05 Agustus 2018

Linimasa Peradaban


Belakangan ini saya jadi sering buka Twitter, karena bertemu beberapa yang menarik. Contohnya, hastag #HeForShe. Kebetulan waktu itu sedang stalk seorang lelaki, dan lelaki tersebut committed to HeForShe. Dibalik luluhnya hati saya, yang enggan saya bahas lagi disini, ada beberapa hal yang menyangkut kesetaraan gender tersebut.
                Seringkali, dalam bentuk media apapun; social media khususnya, kampanye Gender Equality, sampai LGBTQ terus digencarkan. Tanpa disadari, ataupun dengan sangat sadar. Sengaja dimasukkan ke dalam budaya ataupun tidak sengaja di konsumsi oleh kita semua. Akun Instagram National Geographic, contohnya. Beberapa hari lalu, sekilas sambil scroll laman Instagram, saya like satu foto bergambar dua lelaki dengan penuh cinta berepelukan, dua wanita berpangkuan, kedua foto tersebut menampilkan satu kesamaan – mereka sendu, kelabu. Sempat heran. Ketika Natgeo bukan lagi tentang Geographic fisik, tapi juga kebudayaan. Ketika Natgeo mencoba memfisikkan yang samar.
                Seberapa tabu? Se-tabu orang-orang Timur mendefiniskan perempuan telanjang yang dibalut hanya dengan Bra. Bra; objek yang keindahannya tidak pernah secara langsung diakui. Si multifungsi; menutupi dan menonjolkan. Seberapa tabu? Se-tabu para pembaca berpikir bagaimana saya, seorang perempuan bla-bla-bla (apapun yang ada dikepala kalian), mengangkat tema ini. Apa alasannya?
                Belum lama, kasus Sexual Harrashment terjadi kepada salah satu entertain muda, penyanyi Via Vallen, beliau Speak Up tentang apa yang terjadi. Ada yang mendukung, ada yang tidak. Juga kejadiannya tidak lama dengan trending berita tentang Asia Argento yang berbicara di sebuah mimbar di sebuah acara penghargaan, bagaimana dia pernah mengalami Sexual Harrashment dari seorang Harvey Weinstein. Ada yang sangat pro mendukung apa yang dilakukan si perempuan, namun tidak banyak yang mencari-cari kontra, karena prinsip setiap orang; apapun yang bisa dipermasalahkan, maka debatkanlah! Dua hal yang saya simpulkan dari komentar-komentra warganet terkait kasus tersebut: Pertama, cara berpakaian wanita. Kedua, majorit/minoity, Patriarki. 
                Terkait dua alasan major tersebut, berikut pendapat saya. Pertama, teruntuk para lelaki atau wanita yang berkomentar demikian, berlandaskan norma kesopanan, ataupun keagamaan, maka garis bawahi: Wanita tidak berpakaian semata-mata untuk memuaskan kalian. Melainkan memuaskan pandangan kami sendiri. Ketika ia berjalan disebuah toko, melintasi cermin, lalu ia merasa cantik. Ketika ia menemukan jiwanya, lalu menentukan pakaian apa yang ia mau, lalu ia merasa cantik. Adakah kesalahan disana? Pendapat saya, tidak ada. Cantik/tidak cantik, bentuk tubuh ideal/gemuk, kulit putih/hitam/sawo matang, bukan hanya untuk laki-laki, tapi itu hak si empunya diri mereka sendiri - perempuan.
                Teruntuk para lelaki, dunia tidak mengubur kenyataan bahwa kekerasan seksual pada lelaki juga ada, dan kami perempuan tidak pernah menertawakan hal itu. Maka bukan hanya saling mencari kesalahan, sebaiknya kita bergabung menentang hal itu atas nama manusia, tidak atas nama gender.
                Bicara soal gender, saya jadi kembali ke ide tentang orientasi seksual. Apakah betul kampanya LGBTQ adalah kemajuan peradaban? Saya kurang setuju. Tidak setujunya, simpel karena menurut pendapat saya yang masih awam ini, cinta ada jauh sebelum peradaban. Jadi kampanye tersebut adalah kemajuan cinta dan bahkan lebih dari kemajuan peradaban? Kurang tahu kalau ini. Saya enggan dan sulit menempatkan posisi dimana saya akan berdiri soal ini. Semua serba seimbang. Biar begitu, saya yakin kampanye LGBTQ bukan bertujuan untuk mengkampanyekan seks bebas atau memudarkan nilai-nilai keagamaan, karena menurut saya itu kedua hal yang berbeda. Berbeda nya begini, bukan tidak mungkin si kuper yang rajin beribadah punya orientasi seksual yang berbeda dari yang seharusnya. Apakah pergaulan yang salah? Baca sekali lagi, dia kuper. Pergaulan apa?
                Keseimbangan yang saya maksud adalah: mereka berhak memperjuangkan cinta, tapi para Pemuka Agama juga berhak untuk mempertahankan nilai-nilai yang mereka percayai. Apabila ingin mencinta, maka mencintalah. Tetapi same sex marriage yang disahkan agama dan negara, apakah tidak terlalu berlebihan?

Sabtu, 21 Maret 2015

Sastra atau Strata?

Apa yang saya bayangkan saat masuk Sastra adalah mahasiswa yang berdiskusi dimanapun dan mendiskusikan apapun, mengetahui apa itu esensi seni, ekspresif dan menyuarakan apapun, juga memberikan kritik yang tidak asal dan punya dasar asumsi tanpa tidak menjadi apa apa dan tidak lupa berkaca kepada diri sendiri sehingga kritik yang diberikan seimbang dengan latar belakang mereka, menyuarakan hak masing-masing tapi tak lupa juga kalau kita semua punya kewajiban yang sama. Tapi pada kenyataannya yang seperti itu tidak ada. Kalau begitu selamat kepada Strata yang telah mengalahkan eksistensi Sastra di Universitas Saya Berada ini. Selamat atas mahasiswanya yang seperti zombie, selamat atas seninya yang mati dan selamat atas esensi sastra itu sendiri yang di salah arti. Juga selamat kepada beberapa dosen yang menempatkan diri mereka sendiri ada satu tingkat dibawah Tuhan.
Tidak ada yang mendiskusikan ide-ide kalau tidak pada saat rapat yang memang didalam forum itu dipaksakan untuk mendiskusikan ide, jarang yang mendiskusikan event kecuali menjelekkan event itu sendiri. Tidak ada diskusi disetiap sudut kampus kecuali mendiskusikan orang-orang. Tidak ada yang hapal juga atau sekedar mendengar apa itu Mars Mahasiswa apalagi tahu seperti apa bunyinya. Memang ini bukan jaman Orde Baru lagi, memang kita tidak diharuskan berdemo lagi dan berdemo lagi, memang kita tidak sedang menentang siapa siapa disini sehingga mengharuskan kita bertaruh nyawa sendiri. Entah apa yang salah, ataukah memang universitas itu sendiri ataukah isinya ataukah semua pihaknya. Ataukah pandangan masyarakatnya yang memang melihat negatifnya saja?

Berada dibawah naungan Sastra seharusnya tentram, damai karena kita punya berbagai pandangan, tidak berpihak karena pikiran kita bercabang, tidak mudah berasumsi sebelah mata karena seharusnya kita tidak buta Psikologi Sastra, Sosiologi Sastra bahkan Filsafat Sastra. Bukan maksud menjelekkan berbagai pihak, tapi ada beberapa hal yang membuat sastra itu sendiri hanya sekedar tulisan di pintu masuk fakultas; Dosen yang di dewakan, mahasiswa yang mencari Strata sehingga nilai-nilai Sastra diabaikan, kaum borjuis jadi mayoritas, dan terakhir krisis pemimpin. Tetapi kalau orang baik tidak mau ikut bertarung dan turun ke jalan, biarlah orang bodoh yang melakukannya, terimalah kebijakan-kebijakan yang menyimpang. Akhirnya semua pihak saling menyalahkan dan menjatuhkan. Itulah cerminan sastra sekarang.