Aristoteles pernah
berkata soal kritik, dia bilang, “Criticism
is something we can avoid easily by saying nothing, doing nothing, and being
nothing.”. Yang kesimpulannya adalah kalau bukan siapa-siapa kita tidak
akan di kritik. Kritik adalah resiko yang diambil jika seseorang
mengatakan sesuatu, melakukan sesuatu dan menjadi sesuatu. Namun saya jadi
berpikiran terbalik dengan Aristoteles yang biasanya semua omongannya kelihatan
benar, yang biasanya saya dewakan setelah Filsuf Yunani lain yaitu Plato dan
Socrates. Menurut saya sendiri, tanpa melakukan apa-apa dan tanpa berkata
apa-apa itu juga sebuah kritik. Kasarnya “peduli setan”nya lebih terasa.
Halusnya, menjadi apatis. Tetapi untuk kalimat terakhir saya setuju dengan
Aristoteles. Kalau bukan siapa-siapa untuk apa seseorang itu dikritik? Lalu
saya berpikir lagi, seseorang bisa juga dikritik tentang apa yang tidak
dilakukannya, tentang di manakah kontribusinya. Itulah kenapa kritik tidak ada
habisnya, itulah mengapa tidak mendengar kritik artinya lebih baik dia tidak
usah hidup. Selain itu Eleanor Roosevelt juga bilang, “Great minds discuss ideas, average minds discuss events, small minds
discuss people.” Di masyarakat, kategori small minds sering terjadi dan tidak ada matinya, dengan dalih
diskusi padahal argumen dan kritik sebelah mata, atau dengan dalih kritik
membangun padahal pembunuhan karakter.
Lidah tidak bertulang.
Kiasan itu sering dijadikan pemakluman. Society
atau masyarakat saling menghancurkan dan dihancurkan akibat ujaran
kebencian berdalih kritik yang disambut ketidakberterimaan kritik. Tetapi saat
ini, apa yang menjadi tujuan kritik itu diutarakan. Kritik karena benar, atau
semata kepentingan golongan, power dan
kekuasaan?
Bicara soal society, sama seperti Einstein yang membuat
rumus kehidupan yaitu Relativity of Ego
vs. Knowledge yang kesimpulannya: The
more the knowledge, lesser the ego. Lesser the knowledge, the more the ego.”
Saya juga punya rumus pribadi sendiri tentang current society /
masyarakat sekarang, bukan society
secara ideal keseluruhan, ya.
The
love of power > The power of love = current society.
Kesimpulannya,
kecintaan terhadap kekuatan/power lebih besar daripada kekuatan terhadap cinta/love. Menurut saya itu bukan lagi hipotesis yang masih harus
dibuktikan, tetapi sudah menjadi teori yang terbukti sekarang-sekarang. Kekuatan
omongan yang menghasilkan doctrine,
lewat hoaks, yang bertujuan untuk menjadikan seseorang menjadi enemy of the state atau musuh bersama,
demi power dan kemenangan golongannya
sendiri.
Kritik sosial dan
protes masyarakat harus atas nama satu; suara kebenaran. Mengkritik karena
benar. Bukan karena mewakili ormas-ormas.
Bully
dengan
dalih kritik sudah lumrah, apalagi kalau si sender
dan si recheiver sama-sama tidak
punya knowledge. Balik lagi ke rumus
Relativitas Einstein tentang Ego vs
Knowledge. Kalau sudah begini mau melawan pakai apa kalau bukan ego
masing-masing? Kenapa knowledge bisa menjadi
kontrol ego? Jelas karena orang yang pengetahuannya banyak, sudut pandangnya
bercabang-cabang, berlapis-lapis, dan kemana mana. Pohonnya juga lebat. Buat
apa egonya menang kalau dia dapat jawaban dari ilmu-ilmu pengetahuannya?
Sekarang kalau dilihat
dari fakta—bukan dari pandangan atau pendekatan apapun, tidak ada individu dan
tidak ada masyarakat yang sesungguhnya, selain tumpukkan orang-orang yang takut
berdiri atas nama suara sendiri. Kalau tidak berteriak atas nama golongan, maka
dia memilih abstain. Berserah pada
nasib, atau memilih hidup aman.
Soe Hok Gie pada saat
menjadi mahasiswa fakultas Sastra di Universitas Indonesia pada jaman Soekarno.
Meski kampus dan universitas tidak boleh ditunggangi, Gie sudah lebih dulu
menyaksikan itu.
Pada tahun 1960-an di
akhir masa kepresidenannya, masyarakat Indonesia notabene Agamis dan Islamis mengkhawatirkan
kedekatan Soekarno dengan partai komunis terlarang. Dalam soal ini saya paham
posisi beliau sebagai presiden dengan negara ber-ideologi Pancasila dan
persatuan segala umat, beliau harus memposisikan diri di tengah-tengah tanpa
keberpihakan, maka Soekarno berada di pusaran Nasionalisme, Agama, dan
Komunisme disingkat NASAKOM. Namun saya tidak sedang membahas itu.
Mari kita bahas contoh skala
kecil dari permasalahan perpecahan di negara pada waktu itu, yaitu politik
golongan yang masuk kampus, yang sudah ada sejak jaman Gie. Pada saat itu
mahasiswa terpecah menjadi KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa) yang berperan menjatuhkan
kediktatoran Soekarno sejak beliau menjabat sebagai presiden seumur hidup. KAMI
melakukan protes dengan aksi demonstrasi. Gie meski tidak kontra dengan KAMI,
pada akhirnya kembali mengkritik segelintir pimpinan mahasiswa itu karena
lantang bersuara melengserkan Orde Lama tetapi terlena di kursi empuk Orde
Baru. Istilahnya mereka aktivis yang berujung menjadi legislatif. Seperti
mewakili NASAKOM, dalam perlawanan menggulingkan kediktatoran Soekarno, di
lembaga pendidikan seperti Universutas muncul juga golongan-golongan mahasiswa
seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang dekat dengan Partai
Nasionalis Indonesia (PNI). Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) atau Gerakan
Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) yang condong atas nama agama. Juga Consentrasi
Gerakan Mahasiswa (CGMI) yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Sebagai mahasiswa, Gie enggan
bergabung ke semuanya, kecuali dua; Himpunan Mahasiswa Sastra dan Mahasiswa
Pecinta Alam (MAPALA UI). Seperti tulisannya di buku hariannya, “Saya bermimpi pada suatu ketika para ulama,
pastor dan biksu, dan domine-domine di Indonesia akan bangkit berdiri menjadi
saksi kebenaran. Stop semua kemunafikan, stop penindasan manusia atas nama
apapun”. Ketidakberpihakan Gie kepada golongan, selain kepada atas nama
bangsa yang merdeka, sepertinya membuktikan tulisannya itu.
Meski tidak berpihak
pada golongan dan hanya berpihak pada kebenaran, Gie tetap mengkritik kebijakan
yang menyimpang, tetapi dengan caranya sendiri; dengan orasi dan
tulisan-tulisannya yang sering bikin geger dan menggertak. Bahkan setelah
Soekarno berhasil jatuh, dia tidak serta merta berhenti mengkritik dan tunduk
dengan Orde Baru. Tidak berhenti di Soekarno, Soeharto pun dia kritik. Rekan
aktifis yang menjadi legislatif dan tergiur kursi di Orde Baru dia kritik. Bahkan
dia mengkritik mahasiswa-mahasiswa dan dosen-dosen UI dengan judul yang pernah
dimuat di Harian Indonesia pada 1969, yaitu ‘Wajah Mahasiswa UI Yang Bopeng Sebelah’.
Artinya Gie mengkrtitik
karena karena adanya penyimpangan, bukan atas nama kemenangan ormas dan
golongan. Dia mengkritisi kebijakan yang menyimpang. Oleh siapa pun itu. Gie
begitu idealis, dia berdiri sendiri. Tan Malaka pernah bilang, ‘Idealisme adalah kemewahan terakhir yang
dimiliki oleh para pemuda’. Ironinya di jaman sekarang ini, Idealisme tidak
lebih dari sekedar perut yang lapar. Semua harus mengikuti sistem, atau mati
kelaparan dan diasingkan. Tetapi Gie tidak takut itu, dia pernah menulis dalam
buku hariannya, “Lebih baik diasingkan
daripada menyerah pada kemunafikan.”
Saya mengakhiri tulisan
ini dengan mengutip dari Henry David Thoreau dalam buku Walden and Civil Disobedience:
“Rather than love, than
money, than fame; give me truth.”
Truth,
bagi Thoreau, ada diatas cinta, uang dan ketenaran. Truth atau kebenaran, jika ditutupi, maka harus dibongkar. Jika
ditanya lalu apa itu kritik yang baik? Kritik yang baik adalah kritik yang
bertujuan untuk kemenangan bersama, bukan untuk kejatuhan lawan semata.