Sabtu, 21 Maret 2015

Sastra atau Strata?

Apa yang saya bayangkan saat masuk Sastra adalah mahasiswa yang berdiskusi dimanapun dan mendiskusikan apapun, mengetahui apa itu esensi seni, ekspresif dan menyuarakan apapun, juga memberikan kritik yang tidak asal dan punya dasar asumsi tanpa tidak menjadi apa apa dan tidak lupa berkaca kepada diri sendiri sehingga kritik yang diberikan seimbang dengan latar belakang mereka, menyuarakan hak masing-masing tapi tak lupa juga kalau kita semua punya kewajiban yang sama. Tapi pada kenyataannya yang seperti itu tidak ada. Kalau begitu selamat kepada Strata yang telah mengalahkan eksistensi Sastra di Universitas Saya Berada ini. Selamat atas mahasiswanya yang seperti zombie, selamat atas seninya yang mati dan selamat atas esensi sastra itu sendiri yang di salah arti. Juga selamat kepada beberapa dosen yang menempatkan diri mereka sendiri ada satu tingkat dibawah Tuhan.
Tidak ada yang mendiskusikan ide-ide kalau tidak pada saat rapat yang memang didalam forum itu dipaksakan untuk mendiskusikan ide, jarang yang mendiskusikan event kecuali menjelekkan event itu sendiri. Tidak ada diskusi disetiap sudut kampus kecuali mendiskusikan orang-orang. Tidak ada yang hapal juga atau sekedar mendengar apa itu Mars Mahasiswa apalagi tahu seperti apa bunyinya. Memang ini bukan jaman Orde Baru lagi, memang kita tidak diharuskan berdemo lagi dan berdemo lagi, memang kita tidak sedang menentang siapa siapa disini sehingga mengharuskan kita bertaruh nyawa sendiri. Entah apa yang salah, ataukah memang universitas itu sendiri ataukah isinya ataukah semua pihaknya. Ataukah pandangan masyarakatnya yang memang melihat negatifnya saja?

Berada dibawah naungan Sastra seharusnya tentram, damai karena kita punya berbagai pandangan, tidak berpihak karena pikiran kita bercabang, tidak mudah berasumsi sebelah mata karena seharusnya kita tidak buta Psikologi Sastra, Sosiologi Sastra bahkan Filsafat Sastra. Bukan maksud menjelekkan berbagai pihak, tapi ada beberapa hal yang membuat sastra itu sendiri hanya sekedar tulisan di pintu masuk fakultas; Dosen yang di dewakan, mahasiswa yang mencari Strata sehingga nilai-nilai Sastra diabaikan, kaum borjuis jadi mayoritas, dan terakhir krisis pemimpin. Tetapi kalau orang baik tidak mau ikut bertarung dan turun ke jalan, biarlah orang bodoh yang melakukannya, terimalah kebijakan-kebijakan yang menyimpang. Akhirnya semua pihak saling menyalahkan dan menjatuhkan. Itulah cerminan sastra sekarang.