Belakangan ini
saya jadi sering buka Twitter, karena bertemu beberapa yang menarik. Contohnya,
hastag #HeForShe. Kebetulan waktu itu sedang stalk seorang lelaki, dan lelaki
tersebut committed to HeForShe.
Dibalik luluhnya hati saya, yang enggan saya bahas lagi disini, ada beberapa
hal yang menyangkut kesetaraan gender tersebut.
Seringkali,
dalam bentuk media apapun; social media khususnya, kampanye Gender Equality,
sampai LGBTQ terus digencarkan. Tanpa disadari, ataupun dengan sangat sadar.
Sengaja dimasukkan ke dalam budaya ataupun tidak sengaja di konsumsi oleh kita
semua. Akun Instagram National Geographic, contohnya. Beberapa hari lalu,
sekilas sambil scroll laman Instagram, saya like satu foto bergambar dua lelaki
dengan penuh cinta berepelukan, dua wanita berpangkuan, kedua foto tersebut
menampilkan satu kesamaan – mereka sendu, kelabu. Sempat heran. Ketika Natgeo
bukan lagi tentang Geographic fisik, tapi juga kebudayaan. Ketika Natgeo
mencoba memfisikkan yang samar.
Seberapa
tabu? Se-tabu orang-orang Timur mendefiniskan perempuan telanjang yang dibalut
hanya dengan Bra. Bra; objek yang keindahannya tidak pernah secara langsung
diakui. Si multifungsi; menutupi dan menonjolkan. Seberapa tabu? Se-tabu para
pembaca berpikir bagaimana saya, seorang perempuan bla-bla-bla (apapun yang ada
dikepala kalian), mengangkat tema ini. Apa alasannya?
Belum
lama, kasus Sexual Harrashment terjadi kepada salah satu entertain muda, penyanyi
Via Vallen, beliau Speak Up tentang apa yang terjadi. Ada yang mendukung, ada
yang tidak. Juga kejadiannya tidak lama dengan trending berita tentang Asia
Argento yang berbicara di sebuah mimbar di sebuah acara penghargaan, bagaimana
dia pernah mengalami Sexual Harrashment dari seorang Harvey Weinstein. Ada yang
sangat pro mendukung apa yang dilakukan si perempuan, namun tidak banyak yang
mencari-cari kontra, karena prinsip setiap orang; apapun yang bisa
dipermasalahkan, maka debatkanlah! Dua hal yang saya simpulkan dari
komentar-komentra warganet terkait kasus tersebut: Pertama, cara berpakaian
wanita. Kedua, majorit/minoity, Patriarki.
Terkait
dua alasan major tersebut, berikut pendapat saya. Pertama, teruntuk para lelaki
atau wanita yang berkomentar demikian, berlandaskan norma kesopanan, ataupun
keagamaan, maka garis bawahi: Wanita tidak berpakaian semata-mata untuk
memuaskan kalian. Melainkan memuaskan pandangan kami sendiri. Ketika ia
berjalan disebuah toko, melintasi cermin, lalu ia merasa cantik. Ketika ia
menemukan jiwanya, lalu menentukan pakaian apa yang ia mau, lalu ia merasa
cantik. Adakah kesalahan disana? Pendapat saya, tidak ada. Cantik/tidak cantik,
bentuk tubuh ideal/gemuk, kulit putih/hitam/sawo matang, bukan hanya untuk laki-laki,
tapi itu hak si empunya diri mereka sendiri - perempuan.
Teruntuk
para lelaki, dunia tidak mengubur kenyataan bahwa kekerasan seksual pada lelaki
juga ada, dan kami perempuan tidak pernah menertawakan hal itu. Maka bukan
hanya saling mencari kesalahan, sebaiknya kita bergabung menentang hal itu atas
nama manusia, tidak atas nama gender.
Bicara
soal gender, saya jadi kembali ke ide tentang orientasi seksual. Apakah betul
kampanya LGBTQ adalah kemajuan peradaban? Saya kurang setuju. Tidak setujunya,
simpel karena menurut pendapat saya yang masih awam ini, cinta ada jauh sebelum
peradaban. Jadi kampanye tersebut adalah kemajuan cinta dan bahkan lebih dari
kemajuan peradaban? Kurang tahu kalau ini. Saya enggan dan sulit menempatkan
posisi dimana saya akan berdiri soal ini. Semua serba seimbang. Biar begitu,
saya yakin kampanye LGBTQ bukan bertujuan untuk mengkampanyekan seks bebas atau
memudarkan nilai-nilai keagamaan, karena menurut saya itu kedua hal yang
berbeda. Berbeda nya begini, bukan tidak mungkin si kuper yang rajin beribadah
punya orientasi seksual yang berbeda dari yang seharusnya. Apakah pergaulan
yang salah? Baca sekali lagi, dia kuper. Pergaulan apa?
Keseimbangan
yang saya maksud adalah: mereka berhak memperjuangkan cinta, tapi para Pemuka
Agama juga berhak untuk mempertahankan nilai-nilai yang mereka percayai.
Apabila ingin mencinta, maka mencintalah. Tetapi same sex marriage yang
disahkan agama dan negara, apakah tidak terlalu berlebihan?