Minggu, 05 Agustus 2018

Linimasa Peradaban


Belakangan ini saya jadi sering buka Twitter, karena bertemu beberapa yang menarik. Contohnya, hastag #HeForShe. Kebetulan waktu itu sedang stalk seorang lelaki, dan lelaki tersebut committed to HeForShe. Dibalik luluhnya hati saya, yang enggan saya bahas lagi disini, ada beberapa hal yang menyangkut kesetaraan gender tersebut.
                Seringkali, dalam bentuk media apapun; social media khususnya, kampanye Gender Equality, sampai LGBTQ terus digencarkan. Tanpa disadari, ataupun dengan sangat sadar. Sengaja dimasukkan ke dalam budaya ataupun tidak sengaja di konsumsi oleh kita semua. Akun Instagram National Geographic, contohnya. Beberapa hari lalu, sekilas sambil scroll laman Instagram, saya like satu foto bergambar dua lelaki dengan penuh cinta berepelukan, dua wanita berpangkuan, kedua foto tersebut menampilkan satu kesamaan – mereka sendu, kelabu. Sempat heran. Ketika Natgeo bukan lagi tentang Geographic fisik, tapi juga kebudayaan. Ketika Natgeo mencoba memfisikkan yang samar.
                Seberapa tabu? Se-tabu orang-orang Timur mendefiniskan perempuan telanjang yang dibalut hanya dengan Bra. Bra; objek yang keindahannya tidak pernah secara langsung diakui. Si multifungsi; menutupi dan menonjolkan. Seberapa tabu? Se-tabu para pembaca berpikir bagaimana saya, seorang perempuan bla-bla-bla (apapun yang ada dikepala kalian), mengangkat tema ini. Apa alasannya?
                Belum lama, kasus Sexual Harrashment terjadi kepada salah satu entertain muda, penyanyi Via Vallen, beliau Speak Up tentang apa yang terjadi. Ada yang mendukung, ada yang tidak. Juga kejadiannya tidak lama dengan trending berita tentang Asia Argento yang berbicara di sebuah mimbar di sebuah acara penghargaan, bagaimana dia pernah mengalami Sexual Harrashment dari seorang Harvey Weinstein. Ada yang sangat pro mendukung apa yang dilakukan si perempuan, namun tidak banyak yang mencari-cari kontra, karena prinsip setiap orang; apapun yang bisa dipermasalahkan, maka debatkanlah! Dua hal yang saya simpulkan dari komentar-komentra warganet terkait kasus tersebut: Pertama, cara berpakaian wanita. Kedua, majorit/minoity, Patriarki. 
                Terkait dua alasan major tersebut, berikut pendapat saya. Pertama, teruntuk para lelaki atau wanita yang berkomentar demikian, berlandaskan norma kesopanan, ataupun keagamaan, maka garis bawahi: Wanita tidak berpakaian semata-mata untuk memuaskan kalian. Melainkan memuaskan pandangan kami sendiri. Ketika ia berjalan disebuah toko, melintasi cermin, lalu ia merasa cantik. Ketika ia menemukan jiwanya, lalu menentukan pakaian apa yang ia mau, lalu ia merasa cantik. Adakah kesalahan disana? Pendapat saya, tidak ada. Cantik/tidak cantik, bentuk tubuh ideal/gemuk, kulit putih/hitam/sawo matang, bukan hanya untuk laki-laki, tapi itu hak si empunya diri mereka sendiri - perempuan.
                Teruntuk para lelaki, dunia tidak mengubur kenyataan bahwa kekerasan seksual pada lelaki juga ada, dan kami perempuan tidak pernah menertawakan hal itu. Maka bukan hanya saling mencari kesalahan, sebaiknya kita bergabung menentang hal itu atas nama manusia, tidak atas nama gender.
                Bicara soal gender, saya jadi kembali ke ide tentang orientasi seksual. Apakah betul kampanya LGBTQ adalah kemajuan peradaban? Saya kurang setuju. Tidak setujunya, simpel karena menurut pendapat saya yang masih awam ini, cinta ada jauh sebelum peradaban. Jadi kampanye tersebut adalah kemajuan cinta dan bahkan lebih dari kemajuan peradaban? Kurang tahu kalau ini. Saya enggan dan sulit menempatkan posisi dimana saya akan berdiri soal ini. Semua serba seimbang. Biar begitu, saya yakin kampanye LGBTQ bukan bertujuan untuk mengkampanyekan seks bebas atau memudarkan nilai-nilai keagamaan, karena menurut saya itu kedua hal yang berbeda. Berbeda nya begini, bukan tidak mungkin si kuper yang rajin beribadah punya orientasi seksual yang berbeda dari yang seharusnya. Apakah pergaulan yang salah? Baca sekali lagi, dia kuper. Pergaulan apa?
                Keseimbangan yang saya maksud adalah: mereka berhak memperjuangkan cinta, tapi para Pemuka Agama juga berhak untuk mempertahankan nilai-nilai yang mereka percayai. Apabila ingin mencinta, maka mencintalah. Tetapi same sex marriage yang disahkan agama dan negara, apakah tidak terlalu berlebihan?