Sabtu, 07 Agustus 2021

Society and Critic

Aristoteles pernah berkata soal kritik, dia bilang, “Criticism is something we can avoid easily by saying nothing, doing nothing, and being nothing.”. Yang kesimpulannya adalah kalau bukan siapa-siapa kita tidak akan di kritik. Kritik adalah resiko yang diambil jika seseorang mengatakan sesuatu, melakukan sesuatu dan menjadi sesuatu. Namun saya jadi berpikiran terbalik dengan Aristoteles yang biasanya semua omongannya kelihatan benar, yang biasanya saya dewakan setelah Filsuf Yunani lain yaitu Plato dan Socrates. Menurut saya sendiri, tanpa melakukan apa-apa dan tanpa berkata apa-apa itu juga sebuah kritik. Kasarnya “peduli setan”nya lebih terasa. Halusnya, menjadi apatis. Tetapi untuk kalimat terakhir saya setuju dengan Aristoteles. Kalau bukan siapa-siapa untuk apa seseorang itu dikritik? Lalu saya berpikir lagi, seseorang bisa juga dikritik tentang apa yang tidak dilakukannya, tentang di manakah kontribusinya. Itulah kenapa kritik tidak ada habisnya, itulah mengapa tidak mendengar kritik artinya lebih baik dia tidak usah hidup. Selain itu Eleanor Roosevelt juga bilang, “Great minds discuss ideas, average minds discuss events, small minds discuss people.” Di masyarakat, kategori small minds sering terjadi dan tidak ada matinya, dengan dalih diskusi padahal argumen dan kritik sebelah mata, atau dengan dalih kritik membangun padahal pembunuhan karakter.

Lidah tidak bertulang. Kiasan itu sering dijadikan pemakluman. Society atau masyarakat saling menghancurkan dan dihancurkan akibat ujaran kebencian berdalih kritik yang disambut ketidakberterimaan kritik. Tetapi saat ini, apa yang menjadi tujuan kritik itu diutarakan. Kritik karena benar, atau semata kepentingan golongan, power dan kekuasaan?

Bicara soal society, sama seperti Einstein yang membuat rumus kehidupan yaitu Relativity of Ego vs. Knowledge yang kesimpulannya: The more the knowledge, lesser the ego. Lesser the knowledge, the more the ego.” Saya juga punya rumus pribadi sendiri tentang current society / masyarakat sekarang, bukan society secara ideal keseluruhan, ya.

The love of power > The power of love = current society.

Kesimpulannya, kecintaan terhadap kekuatan/power lebih besar daripada kekuatan terhadap cinta/love. Menurut saya itu bukan lagi hipotesis yang masih harus dibuktikan, tetapi sudah menjadi teori yang terbukti sekarang-sekarang. Kekuatan omongan yang menghasilkan doctrine, lewat hoaks, yang bertujuan untuk menjadikan seseorang menjadi enemy of the state atau musuh bersama, demi power dan kemenangan golongannya sendiri.

Kritik sosial dan protes masyarakat harus atas nama satu; suara kebenaran. Mengkritik karena benar. Bukan karena mewakili ormas-ormas.

Bully dengan dalih kritik sudah lumrah, apalagi kalau si sender dan si recheiver sama-sama tidak punya knowledge. Balik lagi ke rumus Relativitas Einstein tentang Ego vs Knowledge. Kalau sudah begini mau melawan pakai apa kalau bukan ego masing-masing? Kenapa knowledge bisa menjadi kontrol ego? Jelas karena orang yang pengetahuannya banyak, sudut pandangnya bercabang-cabang, berlapis-lapis, dan kemana mana. Pohonnya juga lebat. Buat apa egonya menang kalau dia dapat jawaban dari ilmu-ilmu pengetahuannya?

Sekarang kalau dilihat dari fakta—bukan dari pandangan atau pendekatan apapun, tidak ada individu dan tidak ada masyarakat yang sesungguhnya, selain tumpukkan orang-orang yang takut berdiri atas nama suara sendiri. Kalau tidak berteriak atas nama golongan, maka dia memilih abstain. Berserah pada nasib, atau memilih hidup aman.

Soe Hok Gie pada saat menjadi mahasiswa fakultas Sastra di Universitas Indonesia pada jaman Soekarno. Meski kampus dan universitas tidak boleh ditunggangi, Gie sudah lebih dulu menyaksikan itu.

Pada tahun 1960-an di akhir masa kepresidenannya, masyarakat Indonesia notabene Agamis dan Islamis mengkhawatirkan kedekatan Soekarno dengan partai komunis terlarang. Dalam soal ini saya paham posisi beliau sebagai presiden dengan negara ber-ideologi Pancasila dan persatuan segala umat, beliau harus memposisikan diri di tengah-tengah tanpa keberpihakan, maka Soekarno berada di pusaran Nasionalisme, Agama, dan Komunisme disingkat NASAKOM. Namun saya tidak sedang membahas itu.

Mari kita bahas contoh skala kecil dari permasalahan perpecahan di negara pada waktu itu, yaitu politik golongan yang masuk kampus, yang sudah ada sejak jaman Gie. Pada saat itu mahasiswa terpecah menjadi KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa) yang berperan menjatuhkan kediktatoran Soekarno sejak beliau menjabat sebagai presiden seumur hidup. KAMI melakukan protes dengan aksi demonstrasi. Gie meski tidak kontra dengan KAMI, pada akhirnya kembali mengkritik segelintir pimpinan mahasiswa itu karena lantang bersuara melengserkan Orde Lama tetapi terlena di kursi empuk Orde Baru. Istilahnya mereka aktivis yang berujung menjadi legislatif. Seperti mewakili NASAKOM, dalam perlawanan menggulingkan kediktatoran Soekarno, di lembaga pendidikan seperti Universutas muncul juga golongan-golongan mahasiswa seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang dekat dengan Partai Nasionalis Indonesia (PNI). Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) atau Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) yang condong atas nama agama. Juga Consentrasi Gerakan Mahasiswa (CGMI) yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sebagai mahasiswa, Gie enggan bergabung ke semuanya, kecuali dua; Himpunan Mahasiswa Sastra dan Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA UI). Seperti tulisannya di buku hariannya, “Saya bermimpi pada suatu ketika para ulama, pastor dan biksu, dan domine-domine di Indonesia akan bangkit berdiri menjadi saksi kebenaran. Stop semua kemunafikan, stop penindasan manusia atas nama apapun”. Ketidakberpihakan Gie kepada golongan, selain kepada atas nama bangsa yang merdeka, sepertinya membuktikan tulisannya itu.

Meski tidak berpihak pada golongan dan hanya berpihak pada kebenaran, Gie tetap mengkritik kebijakan yang menyimpang, tetapi dengan caranya sendiri; dengan orasi dan tulisan-tulisannya yang sering bikin geger dan menggertak. Bahkan setelah Soekarno berhasil jatuh, dia tidak serta merta berhenti mengkritik dan tunduk dengan Orde Baru. Tidak berhenti di Soekarno, Soeharto pun dia kritik. Rekan aktifis yang menjadi legislatif dan tergiur kursi di Orde Baru dia kritik. Bahkan dia mengkritik mahasiswa-mahasiswa dan dosen-dosen UI dengan judul yang pernah dimuat di Harian Indonesia pada 1969, yaitu ‘Wajah Mahasiswa UI Yang Bopeng Sebelah’.

Artinya Gie mengkrtitik karena karena adanya penyimpangan, bukan atas nama kemenangan ormas dan golongan. Dia mengkritisi kebijakan yang menyimpang. Oleh siapa pun itu. Gie begitu idealis, dia berdiri sendiri. Tan Malaka pernah bilang, ‘Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh para pemuda’. Ironinya di jaman sekarang ini, Idealisme tidak lebih dari sekedar perut yang lapar. Semua harus mengikuti sistem, atau mati kelaparan dan diasingkan. Tetapi Gie tidak takut itu, dia pernah menulis dalam buku hariannya, “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”

Saya mengakhiri tulisan ini dengan mengutip dari Henry David Thoreau dalam buku Walden and Civil Disobedience:

“Rather than love, than money, than fame; give me truth.”

Truth, bagi Thoreau, ada diatas cinta, uang dan ketenaran. Truth atau kebenaran, jika ditutupi, maka harus dibongkar. Jika ditanya lalu apa itu kritik yang baik? Kritik yang baik adalah kritik yang bertujuan untuk kemenangan bersama, bukan untuk kejatuhan lawan semata.

Benang Merah

 

Pada suatu masa di tempat dan waktu yang tidak terbatas, pada sebuah meja bundar, ada suatu perdebatan tentang existencial crisis, asal usul manusia dan keimanan. Diskusi dihadiri oleh perwakilan pemuka agama; perwakilan Filsuf oleh Charles Darwin dan Fredrich Nietzsche; Ilmuwan diwakili oleh Albert Einstein dan Stephen Hawking; Politisi oleh Presiden Abraham Lincoln.

“Urusan dia dan teka-tekiNya yang bernama takdir, lah! Semua sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa.” Teriak pemuka agama satu suara.

“Survival of the fittest, dong!” Sangkal Darwin. “Semua makhluk berevolusi seiring berjalannya waktu.. Kita hanyalah monyet-monyet yang berakal.”

“Aku sih percaya dunia ini awalnya hanyalah partikel atom yang kecil yang berkembang terus sejak triliun tahun yang lalu.” Stepen Hawking ikutan.

“Tapi perhitungan Sains sesuai lho dengan apa yang dikatakan kitab suci.” Sambung Einstein.

Abraham Lincoln dengan senyum wise-nya ikutan, “Aku sih; When I do good, I feel good. When I do bad, I feel bad. That’s my religion.”

Semua pernyataan ditertawakan Nietzsche, “Gimana sih. Namanya juga Faith. Percaya. Artinya tidak mau tahu lagi apa itu  kebenaran. Logikanya, benar atau tidak benar, dia yakin.”

Ironinya, perdebatan berakhir pada seorang Nietzsche yang Anti-God. Dia bilang ‘Faith is not wanting to know what is true’. Nietzsche mungkin saja mengatakan ini dengan sinis, tetapi dari pernyataan itu, benang merah ditemukan. Faith adalah iman, dan iman berarti meyakini. Saat kita percaya, benar atau tidak benar, sudah bukan soal lagi. Buat apa dipertanyakan kalau sudah yakin.