Apa
yang saya bayangkan saat masuk Sastra adalah mahasiswa yang berdiskusi
dimanapun dan mendiskusikan apapun, mengetahui apa itu esensi seni, ekspresif
dan menyuarakan apapun, juga memberikan kritik yang tidak asal dan punya dasar
asumsi tanpa tidak menjadi apa apa dan tidak lupa berkaca kepada diri sendiri
sehingga kritik yang diberikan seimbang dengan latar belakang mereka, menyuarakan
hak masing-masing tapi tak lupa juga kalau kita semua punya kewajiban yang
sama. Tapi pada kenyataannya yang seperti itu tidak ada. Kalau begitu selamat
kepada Strata yang telah mengalahkan eksistensi Sastra di Universitas Saya Berada ini. Selamat
atas mahasiswanya yang seperti zombie, selamat atas seninya yang mati dan
selamat atas esensi sastra itu sendiri yang di salah arti. Juga selamat kepada
beberapa dosen yang menempatkan diri mereka sendiri ada satu tingkat dibawah
Tuhan.
Tidak
ada yang mendiskusikan ide-ide kalau tidak pada saat rapat yang memang didalam
forum itu dipaksakan untuk mendiskusikan ide, jarang yang mendiskusikan event
kecuali menjelekkan event itu sendiri. Tidak ada diskusi disetiap sudut kampus
kecuali mendiskusikan orang-orang. Tidak ada yang hapal juga atau sekedar
mendengar apa itu Mars Mahasiswa apalagi tahu seperti apa bunyinya. Memang ini
bukan jaman Orde Baru lagi, memang kita tidak diharuskan berdemo lagi dan
berdemo lagi, memang kita tidak sedang menentang siapa siapa disini sehingga
mengharuskan kita bertaruh nyawa sendiri. Entah apa yang salah, ataukah memang
universitas itu sendiri ataukah isinya ataukah semua pihaknya. Ataukah
pandangan masyarakatnya yang memang melihat negatifnya saja?
Berada
dibawah naungan Sastra seharusnya tentram, damai karena kita punya berbagai
pandangan, tidak berpihak karena pikiran kita bercabang, tidak mudah berasumsi
sebelah mata karena seharusnya kita tidak buta Psikologi Sastra, Sosiologi
Sastra bahkan Filsafat Sastra. Bukan maksud menjelekkan berbagai pihak, tapi
ada beberapa hal yang membuat sastra itu sendiri hanya sekedar tulisan di pintu
masuk fakultas; Dosen yang di dewakan, mahasiswa yang mencari Strata sehingga
nilai-nilai Sastra diabaikan, kaum borjuis jadi mayoritas, dan terakhir krisis
pemimpin. Tetapi kalau orang baik tidak mau ikut bertarung dan turun ke jalan,
biarlah orang bodoh yang melakukannya, terimalah kebijakan-kebijakan yang
menyimpang. Akhirnya semua pihak saling menyalahkan dan menjatuhkan. Itulah
cerminan sastra sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar