Menulis lagi rasanya seperti tobat kepada Sastra. Seperti berdosa, berkata-kata rasanya malu sendiri. Kemana saja aku bertahun-tahun ini. 17 Juli 2021 aku mulai lagi. Sudah terlalu banyak orang bicara, dan kata-kata terlalu berseliweran bercampur di udara, dalam maya maupun nyata. Setelah bertahun-tahun dimanjakan mulutku, tubuhku, terkuncinya pikiranku oleh kenikmatan gratis institusi, aku kembali lagi. Bagai mahasiswa bangkotan yang terlambat mencari arti setelah bosan cari materi.
Mungkin harus gelisah dulu baru bisa berpikir. Jadi idealis tidak bisa bikin perut kenyang. Tapi buruknya aku, saat pundi-pundi ada dalam genggaman, otakku tidak fungsi lagi. Tulisan-tulisan, sajak-sajak, seringnya dibuat oleh orang-orang yang sedang kesasar dalam ramai. Saat tidak bisa lagi membedakan, kau ini sedang kosong atau penuh. Saat tidak lagi tahu, kau ini sedang berat ke tanah atau terapung di udara tidak bisa ke atas dan ke bawah. Menulis bukan untuk orang-orang yang gembira. Menulis dilakukan oleh orang-orang yang marah.
Yang sulit dalam masa ini adalah ketika udara terasa tidak gratis lagi. Kaki tidak bebas lagi. Pintu rumahmu bukan hak mu lagi untuk dibuka. Saat berjalan, berpikir, melamun di pinggir trotoar sudah bukan cara lagi bagi orang-orang yang selalu punya pertanyaan. Mereka dipaksa berpikir dalam ruangan, menatap triplek langit-langit kamar, menutup pintu rapat-rapat. Padahal jawaban-jawaban itu ada diluar, bukan dalam ruang petak yang lagi-lagi berisi isi kepalamu. Ditengok ke sudut mana pun isinya kemarahan. Banyak hal yang patah tetapi tidak bisa tumbuh lagi; harapan yang ditolak, mimpi yang terkurung, energi kesenangan yang habis, hasrat hidup yang alakadarnya, semangat yang redam, bahagia yang redup, imun yang menurun, iman yang sudah lama hilang.
Jika ditanya, "Ada apa dalam dua atau lima tahun ke depan?" Tidak ada cinta, tidak ada karya, maka tidak ada materi juga. Tidak juga mimpi. Hanya hidup untuk hari ini saja setiap harinya. Sampai usia--lima puluh?
"Hati-hati kalau bicara", kata setan yang takut.
"Sungguh percaya diri akan umur panjang", kata setan yang tadinya malaikat tapi berubah haluan.
"Dasar bocah kemarin sore, tahu apa kamu tentang hidup malang", kata setan yang ada dalam diriku sendiri.
Malaikat cuma diam saja, mungkin dia juga bingung. Siapa yang tahu kalau ternyata dia ingin sekali menempeleng dan mengutuk diriku, tetapi bukan tugasnya. Apa tidak marah dia dengan kebaikan yang selalu di cap sebagai kekalahan di dunia ini? Tetapi marah juga bukan tugasnya.
Hukum datang atas nama adil, tetapi kerdil. Institusi selalu berkata regulasi, tetapi basi. Penguasa datang atas nama pelindung, tapi hanya membuat langit makin mendung. Kekasih datang atas nama cinta, aku tidak pernah minta, tapi Tuhan selalu kasih yang mentah. Tidak apa-apa, tapi kalau hanya bikin air mata, maka buat apa. Sudah terlalu banyak pelajaran di dunia ini, dalam sekali lirik, dalam sekali hela napas, dalam sekali pikir, dalam sekali bicara, jadi jangan lagi dalam sekali pengalaman yang belum tentu hanya dua puluh empat jam saja. Jangka waktu tahunan dalam hidup yang sudah lama terhimpit oleh stigma usia muda dan tua, rasanya hanya buang waktu saja. Tetapi apa artinya hidup kalau semua sudah pasti, kalau semua tidak harus dicari sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar