Kisah Cannibalism in the Car karya Mark Twain di awali oleh si penulis yang bertemu dengan seorang pria paruh baya di kereta, yang menceritakan di penulis pengalaman paling buruk yang pernah dialami pria tersebut.
Pria itu berkisah tentang dua puluh empat penumpang kereta yang menempuh perjalanan dari St. Louis ke Chicago pada 19 Desember 1853 dan terjebak di badai salju. Semua penumpangnya pria, tak ada anak-anak ataupun perempuan. Saat itu mereka dalam semangat yang luar biasa, dan kondisi fisik yang bagus luar biasa, juga berkenalan dengan sopan dan baik. Perjalanan sepertinya akan menyenangkan, tak ada yang menyendiri, semua bergabung menyatu. Tak ada firasat buruk sebagai pertanda bahwa mereka akan mengalami kejadian tragis dalam perjalanan ini.
Pukul sebelas malam, salju mulai turun lebat. Setelah melewati Welden, mereka memasuki padang rumput yang kesunyiannya dahsyat, tanpa ada perumahan dan hanya berisi kesuraman. Angin berhembus ganas, angin tak hanya menggoyangkan pohon tapi juga menggerakkan batu-batu. Mereka menempuh badai salju yang sepertinya dihembuskan oleh gelombang dari laut yang tengah terkena badai.
Pukul dua pagi, mereka dibangunkan dan diberitahu bahwa mereka terjebak dalam badai salju. Mereka keluar menghadapi malam yang liar dan dinginnya luar biasa. Sekup, tangan, kayu, atau apapun sudah dikerahkan untuk menyingkirkan tumpukkan salju dari badan kereta. Satu jam berusaha hanya membuahkan hasil sia-sia. Hal yang lebih buruk justru terjadi, stear patah dan rusak, mereka tak bisa melanjutkan perjalanan. Mereka hanya bisa mengumpulkan kompor. Kayu-kayu adalah satu-satunya persediaan. Tidak mungkin mereka menempuh perjalanan dengan berjalan kaki ditengah tebalnya salju yang begitu dingin, mereka juga tidak bisa meminta bantuan. Mereka hanya bisa berserah dan menunggu. Hanya ada dua pilihan, ditolong atau kelaparan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan yang terlihat disekeliling mereka, tidak ada manusia kecuali gurun luas yang kini bersalju. Mereka semakin sedikit bicara, berpikir lewat sorot mata pucat yang liar, kesunyian, kesedihan, dan kelaparan. Sudah lima hari mereka terjebak, sorot mata kelaparan sudah jelas terlihat.
Hari ke-enam, mereka mulai melakukan penyeleksian tentang siapa yang harus rela menjadi makanan untuk teman-temannya. Yang paling terlihat pucat dan kurus adalah yang menjadi kandidatnya. Setiap orang menunjuk orang yang berbeda. Mr. Gaston adalah ketua pimpinan. Mr. Blake, sekertaris. Holcomb, Dyer, dan Baldwin adalah panita nominasi. Mr. R. M. Howland sebagai penyetor untuk membantu menyeleksi.
Nama Mr. Harris keluar menjadi kandidat pertama. Semua memilih dia kecuali dirinya sendiri. Tapi dia berkomentar, dirinya akan sah jika suara sudah bulat. Akhirnya terpilihlah Mr. Radway untuk sarapan, Walker dari Detroit untuk makan malam, dan untuk sarapan besok pagi adalah Morgan dari Alabama, dan untuk makan malamnya adalah pria dari Oregon, selanjutnya adalah Baker dari Georgia, Doolittle, Hawkins, McElroy, Penrod, kedua Smith bersaudara, Bailey, Indian Boy, dan Buckminster. John Murphy hampir menjadi kandidat, tapi dia berhasil pulang bersama yang tersisa. Dia akhirnya menikahi janda Harris.
Setelah pria itu menghentikan cerita tentang pengalaman hidupnya dan berhenti di stasiun berikutnya, si penulis bertanya kepada kondektur tentang siapa pria itu, si kondektur menjawab, dia pernah menjadi anggota kongres, pernah terjebak di badai salju dan salah satu dari yang berhasil bertahan hidup.
(Ringkasan Cerita oleh Desy Fuzy)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar